PERISTIWA 

LK Ara Menerima Anugerah Penyair Adiluhung HPI 2026

JAKARTA (LITERA) — Yayasan Hari Puisi (YHP), dalam rangka perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2026, kembali memberikan anugerah Penyair Adiluhung. Anugerah ini sudah mulai diberikan sejak tahun 2020, dan untuk pertama kalinya diberikan kepada penyair Sapardi Djoko Damono. Selanjutnya pada tahun 2021 diberikan kepada presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri.

Pada dua tahun berikutnya, 2023, anugerah serupa diberikan kepada penyair sufi Abdul Hadi WM. Kemudian, pada tahun 2024 diberikan kepada penyair Madura D. Zawawi Imron. Tahun ini, 2026, akan diberikan kepada penyair Aceh, Lesik Keti Ara atau LK Ara.

Pengumuman itu dibacakan oleh Ahmadun Yosi Herfanda selaku anggota dewan juri pemilihan penerima Anugerah Penyair Adiluhung, dalam pergelaran perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2026, di Graha Utama Gedung A, Kemendikdasmen, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta, Minggu, 26 Juli 2026. Dewan juri lain, Sutardji Calzoum Bachri dan Rida K. Liamsi. Ketiganya merupakan pembina YHP. Anugerah tersebut diserahkan oleh Menbud Dr Fadli Zon, diterima langsung oleh LK Ara, didampingi ketua panitia Ariani Isnamurti beserta jajaran inti panitia, seperti Danny Susanto, Willy Ana, Ewith Bahar, dan Sihar Ramses Simatupang.

Menurut dewan juri, LK Ara dipilih karena kesetiaan dan dedikasinya yang luar biasa bagi dunia perpuisian Indonesia. Lahir pada 12 November 1937, di Takengon, Aceh Tengah, LK Ara sudah menghasilkan lebih dari 40 buku, sebagian merupakan buku kumpulan puisi. “Ara juga dikenal sebagai pembaca puisi yang menarik dan berkarakter. Biasanya dengan didampingi penyanyi tradisional Aceh, yang membawakan puisi dengan dinyanyikan dan diselingi pembacaan puisi oleh LK Ara,” katanya.

Dikatakan, debut kepenyairannya dimulai tahun 1969 dengan menerbitkan buku kumpulan puisi Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969). Kemudian berlahiran buku-buku kumpulan puisi lainnya, antara lain Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984), Catatan Pada Daun (Balai Pustaka, 1986), Kening Bulan (1986). Dalam Mawar (Balai Pustaka, 1988), Ucap Gemercik Air (2017), Jejak Kata (2021), dan…. Ara juga menulis puisi-puisi berbahasa Gayo, dan diterbitkan dengan judul Junjani (Jakarta, 197l), Loyang Sekam (Jakarta, 1971), dan Buntul Kubu (Jakarta, 1971).

Selanjutnya, menurut Dewan Juri, melalui Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Aceh, LK Ara menjadi editor bersama Taufiq Ismail dan Hasyim K.S. untuk terbitnya antologi sastra budayawan Aceh Seulawah (1995). Dia juga menjadi penyunting buku antologi puisi penyair Aceh Jabal Ghafur 86 dan Aceh dalam Puisi (2003).
Buku kumpulan puisi anak yang sudah terbit adalah Anggrek Berbunga (1982), Buah-buahan di Kebun (1982), dan Senandung Burung-Burung (1982). Kumpulan karangan berupa bacaan anak, yaitu Senjata Pustaka Kita (1983), Umbi-Umbi Kami (1983), Biografi Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Berkelana dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997) yang menghimpun biografi singkat dan perkenalan karya 14 pengarang Aceh dari Abdul Rauf hingga Maskirbi, Syair Tsunami dan Ekspresi Puitis Aceh (2006), Menghadapi Musibah (2006), dan catatan perjalanan ketika naik haji dalam buku berjudul Perjalanan Arafah (1974).

LK Ara, menurut Ahmadun, juga dikenal aktif dalam seni pentas. Ketika di Balai Pustaka bersama Rusman Sutiasumarga dan M. Taslim, dia ikut mendirikan Teater Balai Pustaka tahun 1967. Dia juga dikenal sebagai penaja yang pernah membawa dan memperkenalkan Toet seorang pedendang lagu “Gayo” sebuah kesenian dari Aceh. Tempat penampilan Toet memperkenalkan lagu Gayo kepada publik, antara lain di TIM, Jakarta, Banda Aceh, Medan, Padang, Palangkaraya, dan Bandung.

Selain itu, tambahnya, LK Ara juga tercatat sebagai ketua Asosiasi Kesenian Gayo (ASG). Mulai tahun 2005 LK Ara menjadi motor penerbitan buku-buku di Bangka Belitung (Babel) dengan Penerbit Yayasan Nusantara Jakarta (YNJ). Karya-karya yang dihasilkan, antara lain, Bunga Rampai Bangka Barat (bekerja sama dengan Pemkab Bangka Barat), Antologi Puisi Lingkungan Hidup Kelekak (bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang), Antologi Pantun Melayu Bangka Pucuk Pauh (bekerja sama dengan Pemkab Bangka Induk), dan Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi (bekerja sama dengan PLN Babel dan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang).

Hadir dalam perayaan HPI 2026, antara lain, Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen Hafidz Muksin, dan sejumlah pejabat di lingkunga Kemenbud dan Kemendikdasmen. Usai menyerahkan anugerah, Menbud Fadli Zon menyampaikan orasi budaya. LK Ara seusai menerima anugerah, juga menyampaikan orasi singkat. Acara dimeriahkan dengan talkshow bersama Sutardji Calzoum Bachri dan Nissa Rengganis, dengan moderator Sihar Ramses Simatupang, serta parade baca puisi bersama Neno Warisman, Helvy Tiana Rosa, Hasan Aspahani, H.E. Luis Gullermo Arellano Dibaja, Soenarjati Djajanegara, Sastri Sunarti Sweeney, Frans Ekodanto, Any Vanath, D. Kemalawati, Fahri Hidayatullah, Tiara Ratna Pelangi, dan musikalisasi puisi oleh Sasina UI. @ Red

Related posts

Leave a Comment

3 × two =